Sinopsis The Bell: Panggilan untuk Mati, Mitos Teror dari Belitung

The Bell: Panggilan untuk Mati menceritakan kisah sekelompok anak muda yang nekat mencuri lonceng keramat di Belitung, demi membuat konten.

Aksi tersebut merusak kesucian lonceng yang dianggap sebagai segel bagi entitas jahat dan membangkitkan kembali Penebok, sosok hantu tanpa kepala bergaun merah yang telah terkurung selama ratusan tahun.

Sosok Penebok dikenal sebagai urban legend yang diceritakan para orang tua agar anak-anaknya tidak bermain jauh dari rumah. Ia dikisahkan mengincar anak kecil sebagai mangsanya.

Namun, setelah bangkit kembali, teror Penebok berubah mengincar satu per satu warga kampung dengan cara menebas dan membawa kepala mereka sebagai tumbal.

Situasi mencekam itu membuat Danto (Bhisma Mulia) kembali ke kampung halamannya di Belitung, demi mencari tahu asal-usul kekuatan jahat Penebok dan bagaimana cara menghentikannya.

Danto pun mulai mempelajari mitos dan kisah Penebok di kampung halamannya bersama Airin (Ratu Sofya).

Perjalanan Danto dan Airin membawa mereka mengetahui bahwa terdapat kepercayaan dan aturan adat lama yang menyimpan petunjuk penting untuk melawan dan menghentikan teror dari Penebok.

Konon, Penebok adalah seorang noni Belanda yang dibunuh secara tragis karena mempertahankan tanahnya. Sejak itu, arwahnya gentayangan dan jadi hantu yang suka mencabut kepala orang.

Melansir detikcom beberapa waktu lalu, mitos soal Penebok kian populer karena penemuan mayat tanpa kepala di beberapa pantai di Belitung. Kejadian-kejadian ini sempat tercatat di beberapa media, mulai dari 2008 hingga 2021.

Film ini digarap oleh sutradara Jay Sukmo dengan Priesnanda Dwi Satria sebagai penulis naskah. The Bell: Teror untuk Mati juga menjadi debut Priesnanda dalam menggarap proyek horor.

Selain tayang di dalam negeri, film ini juga akan memperluas jangkauan internasional dengan berpartisipasi dalam Cannes Film Market yang berlangsung pada 12 hingga 20 Mei 2026.