Api gairah sangat terlihat dari bagaimana Aline Brosh McKenna kembali menulis perkembangan karakter karya Lauren Weisberger, 20 tahun setelah dirinya menyelesaikan naskah The Devil Wears Prada (2006).
McKenna bukan hanya menulis dengan menggunakan karakter yang sama, tetapi juga melengkapinya dengan perkembangan karakter yang manusiawi, logis, dan relevan bukan hanya di dunia Runway berada, tetapi juga dunia penonton menyaksikannya.
Tak pernah terbayangkan sebelumnya Miranda Priestly yang dingin, kejam, dan memiliki kehidupan pribadi berantakan 20 tahun lalu akan terlihat seperti seorang ibu berusia lanjut, kenyang dengan segala jenis obsesi pekerjaan, tetapi masih memiliki hasrat yang sama.
Bukan hanya itu. Salah satu karakter paling ikonis dalam sejarah perfilman tersebut juga memiliki tatapan wisdom yang belum pernah ada sebelumnya, serta senyuman yang lebih banyak yang membuat The Dragon Lady jadi lebih manusiawi dibanding sebelumnya.
Perkembangan juga bukan hanya terjadi pada karakter Miranda, tetapi pada seluruh karakter dalam film ini, Andy Sachs, Emily Charlton, Nigel Kipling, termasuk pada karakter sampingan seperti Lily.
Perkembangan inilah yang mungkin semula dimaksudkan sebagai fan service kepada para penggemar film pertama, tetapi menghasilkan hal yang jauh lebih baik dari yang direncanakan.
McKenna juga terlihat perkembangannya dalam aspek penulisan naskah, yang tercermin dari pilihan kalimat-kalimat cerdas dalam film ini. Mulai dari ledekan, satir, hingga kalimat sederhana yang bisa langsung menusuk ke relung penonton.
Taraf passion yang sama juga ditampilkan oleh David Frankel yang kembali menggarap kisah ini setelah membungkusnya 20 tahun lalu. Bila dua dekade lalu Frankel terlihat menggarap ini seperti pada film komedi-drama lainnya, kali ini ia memberikan sentuhan lebih.
Frankel terlihat menggarap The Devil Wears Prada 2 dengan lebih matang. Ia terlihat memikirkan dengan detail apa yang akan hadir di layar, mulai dari adegan dan komposisinya, vibe yang dibawa, hingga persoalan tone warna yang sempat menjadi kekhawatiran.
Bila melihat hanya dari trailer, memang tone warna sekuel ini jadi lebih suram dan tidak segemerlap film pertama. Namun ternyata, Frankel melakukan itu dengan maksud tersirat. Frankel ingin menghadirkan segala ketidakpastian yang dirasakan saat ini, bukan hanya oleh para karakter di dalam cerita, tetapi juga penonton di depan layar.
Akan tetapi, suasana suram yang hadir juga bukan karena ingin mendegradasi kebahagiaan penggemar. Justru dengan cerita yang dibawa McKenna soal bagaimana perkembangan yang terjadi pada masing-masing karakter kunci, keputusan Frankel soal tone warna ini seolah sebagai pernyataan tegas: di balik ketidakpastian yang membuat masa depan seolah suram, ada hal sederhana dalam hidup yang sepatutnya disyukuri yang mungkin sebelumnya tidak didapat.
Review Film: The Devil Wears Prada 2