Review Film: Para Perasuk

Cerita dibuka tentang anak laki-laki bernama Kid (Jatin Malik) yang hidup bersama ibunya di sebuah desa hutan, India. Masa kecil Kid diwarnai dengan dongeng dari sang ibu, Neela (Adithi Kalkunte), tentang kisah Hanuman.

Suatu hari, tempat tinggal Kid didatangi kepala kepolisian korup Rana Singh (Sikandar Kher). Ia direkrut guru spiritual kejam Baba Shakti (Makarand Deshpande) untuk mengusir penduduk desa dan menguasai tanah warga.

Namun berbeda dari dua film panjang pertamanya itu, kali ini Wregas tampak lebih leluasa bereksperimen keluar dari pakem-pakem film populer modern dan dengan percaya diri menghadirkan kisah yang imajinatif dan fantasi.

Wregas bersama penulis lainnya, Alicia Angelica dan Defi Mahendra, lebih leluasa menambahkan unsur komedi, percakapan menyentil tapi bermakna dalam, adegan yang intens, hingga penggalan-penggalan cerita yang mindblowing.

Meski berpijak pada pengalaman pribadi, Wregas jelas tidak mengurung imajinasinya dalam merancang dunia Para Perasuk. Termasuk soal Desa Latas yang fiktif lengkap bersama budaya, bahasa, dan orang-orangnya.

Sayangnya bangunan imajinasi Wregas soal kehidupan di Desa Latas masih menyisakan celah yang menimbulkan tanya dalam benak penonton. Bukan soal roh-roh yang dibawa Wregas, tetapi lebih pada kehidupan warganya.

Penggunaan bahasa dan dialek seperti campuran Sunda Pantura dengan Betawi jelas terdengar menarik di awal. Namun sayangnya proses percakapan seiring film ini berjalan terasa mengganjal di telinga dan tak konsisten. Salah satunya adalah terkait bagaimana suara dari karakter ini terasa tidak menyatu dan mengambang dengan gambar yang bergerak mengalir.

Padahal, gambar yang ditangkap Gunnar Nimpuno selaku sinematografer terbilang sangat cantik dan 'high definition'. Gunnar sanggup menghadirkan visual yang jelas dan mahal meski hanya menyoroti getek dan sungai yang airnya hijau.

Pengalaman Gunnar bekerja sama dengan Wregas dari Penyalin Cahaya dan Budi Pekerti jelas sudah cukup jadi modalnya memahami imajinasi sutradara asal Yogyakarta tersebut. Hal itu terlihat dari bagaimana Gunnar membedakan dunia Desa Latas dan dunia gaib yang dimasuki para pelamun.

Wregas dan Gunnar menggunakan gaya ala-ala iklan beauty shoot yang 'lebay' dalam menyoroti kenikmatan yang dirasakan Maudy Ayunda dan pelamun lainnya.

Gaya dan momen yang sama juga jadi momen Wregas mengeksekusi cerita jenaka yang mengubah kesan awal film ini dari horor dan mistik menjadi fantasi dan komedi. Meski sebagian humor Wregas terasa cringe, hal itu tak mengganggu bagaimana konten ini mewarnai Para Perasuk.

Apalagi, Wregas sebenarnya memiliki pesan dan cerita inti yang berat, depresif, dan kontemplatif, mengikuti jejak dua film sebelumnya. Bedanya kali ini, luka masa lalu bukan hanya dialami satu tokoh utama, tetapi hampir dari semua karakter yang muncul.

Kompleksitas karakter terlihat bukan hanya dari Bayu yang sukses diperankan Angga Yunanda, tetapi juga Laksmi yang dibawakan Maudy Ayunda, hingga Bapak Bayu yang dibawakan Indra Birowo.

Masing-masing karakter dalam Para Perasuk membawa konflik dan dilemanya sendiri, memungkinkan setiap penonton menemukan masalahnya sendiri dalam film ini dan ikut menjalani perjalanan penyembuhan diri seperti yang dialami Bayu dan Laksmi.

Siko Setyanto selaku koreografer jelas patut mendapatkan pujian atas kerja kerasnya dalam mengonsep gerakan yang begitu banyak dan kolosal untuk film ini, serta menyesuaikan dengan perjalanan hidup dan penyembuhan diri yang dilalui Bayu juga Laksmi.