Ceritanya mengikuti Rama (Ali Fikri), remaja yang renggang dengan ayahnya (Ringgo Agus Rahman) namun sangat dekat dengan ibunya (Dian Sastrowardoyo). Saat sang ibu jatuh koma, Rama menggunakan i-BU, sebuah AI canggih yang mampu meniru wajah dan suara ibunya. Selain mengobati kesepian, Rama memanfaatkan teknologi ini untuk merangsang kesembuhan saraf ibunya. Namun, ia harus menghadapi dilema besar: apakah AI benar-benar bisa menggantikan kehadiran fisik atau justru menjebaknya dalam bayang-bayang masa lalu?
Menonton film ini di bioskop sangat direkomendasikan karena akting emosional Ali Fikri dan performa karismatik Dian Sastrowardoyo yang memukau. Visualisasi teknologi AI yang canggih serta kualitas audio yang imersif akan lebih terasa maksimal di layar lebar. Esok Tanpa Ibu bukan sekadar drama air mata, melainkan refleksi penting tentang bagaimana teknologi membantu sekaligus menguji batasan cinta manusia dalam menghadapi sebuah perpisahan.