Sinopsis dan Fakta Film The Carpenter's Son

The Carpenter's Son. Dok. Magnolia Pictures.

Film The Carpenter's Son dibintangi Nicolas Cage, berkisah tentang Yusuf, Maria, dan Yesus yang menghadapi pertempuran dengan kekuatan iblis.

FILM The Carpenter’s Son bukan sekadar bertema religius. Karya terbaru sutradara Lotfy Nathan ini menggali hal-hal tersembunyi dalam kisah suci, masa kanak-kanak Yesus yang tidak pernah dicatat dan menjadikannya medan pertempuran antara ketakutan manusia, godaan, serta kekuatan iman dan iblis yang saling bertarung.

Sinopsis

Berlatar Mesir era Romawi, The Carpenter's Son mengisahkan kehidupan Yusuf, Maria, dan putra remaja mereka, Yesus, yang hidup dalam persembunyian karena ancaman yang tak pernah surut. Ketika keluarga kecil ini singgah di sebuah pemukiman terpencil, kehadiran seorang anak misterius, yang kemudian diketahui bernama Setan, menggoyahkan kehidupan mereka.

Yesus perlahan ditarik menuju dunia terlarang, dihantui penglihatan masa depan dan peristiwa-peristiwa tak wajar. Yusuf, yang memegang teguh perintah malaikat untuk melindungi sang anak, semakin dilanda keraguan, apakah penglihatan malaikat yang ia percaya selama ini nyata, atau sekadar halusinasi? Film ini beranjak dari ketegangan psikologis menuju pertarungan besar antara kekuatan baik dan jahat, dibingkai melalui perspektif manusiawi tentang keluarga yang mencoba bertahan ketika ancaman spiritual semakin mengerikan.

Pemeran

https://statik.tempo.co/data/2025/12/11/id_1446897/1446897_720.jpg

Nicolas Cage dalam film The Carpenter's Son. Dok. Magnolia Pictures.

Nicolas Cage memerankan Yusuf sebagai “singa tua” yang saleh namun diuji tanggung jawab untuk melindungi sang anak. Cage membedah naskah bersama Nathan guna menelusuri setiap detail kecil dan bisikan keraguan tokohnya.

Noah Jupe sebagai Yesus remaja tampil dengan ketegangan batin, antara kepolosan, kekuatan, dan rasa takut terhadap dunia yang tak ia pahami dab bayangkan sebelumnya. FKA Twigs memerankan figur Maria yang penuh keyakinan, menjadi penenang emosional keluarga. Sementara itu, Isla Johnston mencuri perhatian sebagai Setan kecil: tatapan “seribu mil” dan ketenangannya yang mengganggu membuatnya menjadi pusat kengerian gelap film ini, tokoh yang dipilih dari 20.000 pelamar.

Proses Produksi

Lotfy Nathan menyelesaikan naskahnya hanya dalam satu bulan, terinspirasi dari Injil Masa Kecil Thomas, teks apokrif yang memperkenalkan sisi lain masa kecil Yesus. Dengan latar belakang Gereja Ortodoks Koptik, Nathan menggali kisah yang jarang disentuh dan mengemasnya dalam nuansa thriller supernatural.

Syuting berlangsung di Yunani, seluruhnya menggunakan film 35mm untuk mendapatkan hasil visual zaman kuno. Lokasi-lokasi alami di Kreta dan Attica dimanfaatkan untuk menghadirkan desa-desa primitif, arena hukuman, hingga koloni kusta yang menjadi titik penting dalam cerita.

https://statik.tempo.co/data/2025/12/11/id_1446898/1446898_720.jpg

Noah Jupe dalam film The Carpenter's Son. Dok. Magnolia Pictures.

Proses produksi diwarnai kejadian-kejadian nyaris “mistis” seperti serangan lalat, pinjal, badai dahsyat, banjir, hingga ribuan lebah yang memaksa set dievakuasi. Kru menyebutnya “tulah-tulah Mesir” versi modern.

Dengan desainer produksi Jean-Vincent Puzos dan sinematografer Simon Beaufils, Nathan menolak kemewahan efek visual modern yang banyak masyarakat era sekarang harapkan, namun ia memilih pendekatan naturalistik yang membuat kengerian terasa lebih dekat. Musik Lorenz Dangel dan riasan efek khusus yang minim memperkuat atmosfer keras dunia yang mereka ciptakan. Bahkan Nathan menyebut inspirasi paling besar dalam proyeknya kali ini adalah film The Exorcism.

Untuk memperkuat kesan naturalistik, seluruh kostum dan aksesori didesain khusus oleh Liza K. Amorphokyria, yang mengandalkan riset sejarah, metode pengerjaan tradisional, serta material alami mentah. Setiap busana dirancang untuk merepresentasikan kondisi batin para tokoh, kasta mereka dalam masyarakat, serta proses spiritual yang mereka jalani.

Latar Belakang Pembuatan Film

Nathan, yang dibesarkan dalam kultur Koptik, menekankan bahwa film ini bukan provokasi religius. Ia melihat genre horor sebagai palet warna untuk mengeksplorasi pengalaman spiritual sebelum “era akal,” ketika manusia hidup berdampingan dengan rasa takut terhadap kekuatan tak terlihat. Ia mengingatkan bahwa seni Kristen sering memadukan kegelapan kejahatan dan janji penebusan. The Carpenter’s Son memegang tradisi itu. “Menghadapi kejahatan tanpa gentar adalah, secara paradoksal, cara untuk lebih memahami perlunya kebaikan. Dalam semangat itulah saya membuat The Carpenter’s Son," ungkap Nathan. 

Dengan pendekatan realistis dan riset sejarah ketat, film ini mengajak penonton menelusuri celah-celah hilang dalam kisah suci, untuk menyadari dan memahami apa yang dipertaruhkan serta pesan di dalamnya.

The Carpenter's Son tayang mulai Rabu, 10 Desember 2025 di bioskop Indonesia.

sumber : tempo.co